Search This Blog

Showing posts with label Word - Kosakata. Show all posts
Showing posts with label Word - Kosakata. Show all posts

Saturday, April 23, 2016

Moral

sīla「शील」

Kata moral merupakan bahasa serapan yang berasal dari bahasa asing, yang berakar dari bahasa latin “Moralitas” yang berarti Perilaku, karakter dan tandak tanduk yang pantas. Hal ini berkaitan dengan segala penguraian daripada niat, keputusan, dan tindakan seseorang dianggap sebagai tepat atau tidak tepat.

Makna moral dapat menjadi suatu standar atau prinsip, yang berasal dari kode etik akan filsafat, agama, atau budaya tertentu, atau dapat berasal dari standar yang dipercayai seseorang sebagai sesuatu yang bersifat umum atau universal. Moral juga mungkin secara khusus identik dengan "kebaikan" atau “kebenaran." terutama didalam bahasa Inggris dan latin. Namun dalam bahasa Indonesia tidak, tak jarang kita dengar kata “Moral bejat”! Jadi makna daripada moral dalam bahasa Indonesia sendiri memiliki konotasi yang lain.

sedangkan moralitas artinya
principles concerning the distinction between right and wrong or good and bad behavior.
sebuah prinsip atau standar yang membedakan perlilaku seseorang dari apa yang disebut benar dan salah, ataupun baik dan buruk.

Didalam mempelajari Moral
terdapat beberapa bagian yang perlu masyarakat umum memahami pembelajaran moral:
“Misalnya ada anak anak yang bermain di tempat lapang, kemudian bola tertendang keluar dan menembus jendela kadang rumah warga”
Dari sini kita diajak untuk memahami moral dari segi yang paling dasar, dan mempertimbangkan kedua belah fihak, agar jangan ketidak adilan muncul, agar jangan orang merasa saya yang paling benar ataupun paling salah. maka itu “Meta-Etik” mempelajari hal ini. Mempelajari bagaimana kita menempatkan diri kita pada posisi orang lain agar jangan berat sebelah dan harus adil. Sehingga kita tidak mudah untuk menghakimi orang lain hanya karena perbedaan budaya, kepercayaan, tradisi dan kebiasaan seseorang.

ke5 buku berikut rasanya menarik untuk dipelajari dan ditelaah
  1. Robert L. Arrington (1989). Rationalism, Realism, and Relativism: Perspectives in Contemporary Moral Epistemology
  2. Robert Audi (1998). Moderate Intuitionism and the Epistemology of Moral Judgment.
  3. Robert Audi (1999). Moral Knowledge and Ethical Pluralism
  4. David Copp (2006). Review: Ethics and the A Priori: Selected Essays on Moral Psychology and Meta-Ethics.
  5. The Meaning of the Ambedkarite Conversion to Buddhism and Other Essays By K. N. Kadam

Sebab kita perlu juga melihat, menelaah bagaimana budaya lain memandang apa itu moral, sehingga pemikiran kita tidak sepihak, namun lebih universal. Setelah itu barulah anda melihat kekitab masing masing, Buddhism mengajari banyak hal mengenai keluhuran [sīla]. Dan anda akan lebih terbuka, bukan sekedar percaya kosong belaka.

Monday, June 23, 2014

Renungan Luhur

न अत्तहेतु न परस्स हेतु,
न पुत्तमिच्छे न धनं न रट्ठं।
न इच्छेय्य अधम्मेन समिद्धिमत्तनो,
स सीलवा पञ्‍ञवा धम्मिको सिया॥


Na attahetu na parassa hetu,
na puttamicche na dhanaṃ na raṭṭhaṃ;
Na iccheyya adhammena samiddhimattano,
sa sīlavā paññavā dhammiko siyā.



“Ia Tidak memdambakan putra pun kekayaan [harta], kekuasaan serta pengaruh,
baik untuk kepentingannya sendiri ataupun demi yang lainnya;
ia tidak melakukan cara apapun yang tidak luhur atau menindas yang lain
demi kesuksesan atau menggapai kesejahteraan untuk dirinya sendiri.
Orang yang demikian itu Ku sebut sebagai seorang yang berbudi luhur lagi bijaksana.”


Word bank:
Pali – English – Bahasa Indonesia – 中文
  1. Na = not, no, don’t, not doing, no where [Tidak; tidak dimanapun] 沒有做; 何處都不…。
  2. Attahetu = for one own’s sake [demi kepentingan diri sendiri] 為了自己的好處。
  3. Atta = oneself [diri sendiri] 自己。
  4. Hetu = sake, for the sake of [demi] 為了。
  5. Parassa = others [yang lain] 其他。
  6. Parasatta = other beings [makluk lain] 其他眾生。
  7. Puttamicche = desire child, sense of longing for a baby boy
    [mendambakan [kelahiran] seorang putra] 渴望孺子【男的】,想要兒子。
  8. Icche - iccheyya = excessively craving, sense of very much desiring of something and must be fulfilled, eager to [mendambakan, "kekeh" menginginkan sekali sampai terpenuhi keinginannya] 過度渴望 - 慾望太勉強【一定要達到或實現】, 非常想要的。
  9. Dhanaṃ = wealth, treasure [kekayaan] 財富,金銀財寶。
  10. Raṭṭhaṃ = Kingdom, country or land; desire of power or authority [Menginginkan kerajaan, kekuasaan] 渴望皇宮和權利。
  11. Adhamma = a [in___, not] + Dhamma [justice, just, righteous], so Adhamma means Injustice
    [foul deed, oppresion], in this Adhamma sentence means
    maliciously [having bad intention] and could do anything unscrupulously to reach goals , bad and cruel.
    [ketidak adilan : tega melakukan kejahatan atau menindas demi memenuhi maksud atau kepentingan sendiri, memiliki maksud dan niat yang jahat, buruk dan tega.]
    非正義【歹意、歹毒; 為了達到目的或目標而不擇手段地去做任何事情,甚至能以抑制或壓制對待其他人; 無公正】; 充滿歹意;壞心眼兒,自私自利的念頭。
  12. Samiddhim - Samiddhi = to succeed in gaining prosperity [sukses sejahtera] 成功而獲得財富; 成功便成富翁。
  13. attano = 【for】 oneself [demi diri sendiri] 【為了】自己。
  14. sa = thus: possess, having [yang demikian] 如此。
  15. sīlavā = attitude, behaviour [tindak tanduk] 行為或態度。
  16. paññavā dhammiko = wise and righteous person [Orang bijaksana dan berbud luhur]
    a) paññavā - pabbavā = wise [bijaksana] 有智慧的人: 明智者; 。
    from word Pañña, means wisdom,endowed with knowledge or insight [wise and farsighted], possessed of the highest cognition.
    dari kata Pañña, yang berarti kebijaksanaan, orang yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas [bijaksana dan melihat kedepan], orang yang memiliki pengertian yang dalam mengenai sesuatu.
    b) dhammiko = honorable, righteous; Pious or religious. [one who is virtuous]
    [Berbudi luhur; seorang yang berjalan dijalan yang benar] 正直的人;善德者。
  17. siyā = sanskrit [स्यम् syām] to be considered as; would be …。 [dianggap sebagai] 叫做,把他看做...; 看做。


Other translation with the similar meaning
【其他語言的翻譯】:
Website Samaggi phala menterjemahkan demikian:
Seseorang yang arif tidak berbuat jahat demi kepentingannya sendiri ataupun orang lain,
demikian pula ia tidak menginginkan anak, kekayaan, pangkat atau keberhasilan dengan cara yang tidak benar.
Orang seperti itulah yang sebenarnya luhur, bijaksana, dan berbudi.

中文翻譯:
他不是為了自己或他人的利益而造惡;
Tā bú shì wèi le zì jǐ huò tārén de lì yì ér zào è;
他不渴望孺子,財富或權力;
tā bú kè wàng rú zǐ, cái fù huò qüán lì;
也不去用不正當的手段而得到成就或錢財。
yě bú qǜ yòng bú zhèngdàng de shǒuduàn ér dédào chéngjiù huò qiáncái.
那樣的人,我佛稱他為一個品德善良以及睿智的人。
Nà yàng de rén, wǒ fó chēng tā wéi yí gè pǐndé shàn liáng yǐ jí ruì zhì de rén.

简体中文
他不是为了自己或他人的利益而搞恶;
他不欲望孺子,财富或权力;
也不会为了达到成就或钱财而不择手段地压迫其他人。
那样的人,我佛称他为一个善德者以及明智的人。


English:
He doesn't crave for a son, wealth or kingdom [power or authority],
not for one's own sake, not for the sake of others,
he is not desiring a prosperity by injustice.
I call such person a virtuous man, wise and righteous.

"Ia tidaklah mendambakan seorang putra, kekayaan atau kerajaan [kekuasaan]
demi kepentingannya sendiri maupun demi kepentingan yang lainnya,
Ia tidak menginginkan kesejahteraan melalui cara yang tidak baik.
orang yang demikian adalah orang yang luhur, bijaksana dan lurus"

Note:
pada baris ketiga dari terjemahan Inggris diatas ini, Kata "Tidak baik" maksudnya injustice [secara curang, menindas, jahat]
kata Prosperity dalam terjemahan bahasa Inggris dari sabda ini berasal dari kata Samiddhim - Samiddhi [lihat word bank diatas no 12] yang mana seesungguhnya berarti "kesuksesan" [Karena jaman dahulu kala banyak pedagang sukses, jika seorang pedagang kalau jadi kaya raya atas hasil usaha bisnisnya disebut orang sukses juga, atau sejahtera, berkelimpahan, prosperity]

jadi pada baris ke tiga diatas: "He doesn't want one's own prosperity by injustice." berarti terjemahannya nya seharusnya:
"Ia tidak menghendaki kesuksesan yang diperoleh dengan cara yang curang [tidak luhur; menindas yang lain]"



Source 【經源】:
तिपिटक (मूल) - सुत्तपिटक - खुद्दकनिकाय - धम्मपद - ६. पण्डितवग्गो - ८४
Tipiṭaka (mūla) - suttapiṭaka - khuddakanikāya - dhammapada - 6. Paṇḍitavaggō - 84




Jangan lupa untuk membaca renungan lainnya

Wednesday, April 23, 2014

Apakah Benar Mengartikan Sila Sebagai Moral?

“Seringkali kita menterjemahkan kata sīla menjadi moral didalam bahasa Indonesia. kata moral ini berasal dari bahasa latin [moralitas], yang artinya “kelakuan” “karakter atau kelakuan yang pantas”. Kata moral ini telah menjadi bahasa serapan didalam bahasa Indonesia. Jadi mari coba kita telusuri makna yang terkandung didalam kata moral.”


Oxford dictionary mencatat arti kata moral sebagai berikut:
Concerned with the principles of right and wrong behaviour
yang berkaitan dengan prinsip2 [individual] yang menentukan suatu tindakan itu baik atau buruk
seperti contoh
Moral judgement [penghakiman secara prinsip kesepakatan umum]

Sinonim dari kata moral bermakna sebuah kode etik bagi masyarakat tertentu.

Sedangkan Longman dictionary of contemporary English menuliskan moral adalah
Relating to the principles of what is right and wrong behaviour, and with the difference between good and evil [morally, ethical]:
It is easy to have an opinion on a moral issue like the death penalty for murder.

Ethical maksudnya morally good or correct:
Contoh kalimatnya
can a profitable business ever be ethical?


Jadi kata moral secara garis besar artinya hal hal yang diterima masyarakat, atau penerimaan dari masyarakat, yang mana jika diimplikasikan berdampak ideal, properly [sepantasnya] atau sikap baik dimasyarakat, yang baik sekaligus benar.


Kamus Besar Bahasa Indonesia
Bagaimanakah kamus besar bahasa Indonesia menterjemahkan kata moral ini?
Moral /mo•ral/ n
1 (ajaran tt) baik buruk yg diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dsb; akhlak; budi pekerti; susila,
contoh:
-- mereka sudah bejat, mereka hanya minum-minum dan mabuk-mabuk, bermain judi, dan bermain perempuan;
2 kondisi mental yg membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, dsb; isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dl perbuatan: tentara kita memiliki -- dan daya tempur yg tinggi;
3 ajaran kesusilaan yg dapat ditarik dr suatu cerita;

bermoral /ber•mo•ral/ v
1 mempunyai pertimbangan baik buruk; berakhlak baik: mana ada penjahat yg -;
2 sesuai dng moral (adat sopan santun dsb): ia melakukan perbuatan yg tidak –

Konklusi arti kata Moral
Jadi didalam bahasa Indonesia pun pengertian moral mirip dengan yang ada dibahasa Inggris, yaitu sebuah prinsip yang diterima dihati khalayak mengenai sikap atau karakter dari seseorang melalui tatakrama – adat istiadat, kesopanan, akhlak, dsb. Yang intinya terkait dengan kata adab [beradab] dan susila.
Kata adab berarti kehalusan dan kebaikan budi pekerti [perangai baik], kesopanan atau akhlak [prilaku]
  1. Pekerti = perangai atau tabiat, awtak, akhlak
  2. Budi = baik

Kamus pali dan sanskirt

Śīla (Sanskrit)
[sīla (Pāli) स्īल]

Kata sīla diartikan sebagai:
1. Nature [bakat alami]
2. Character [sikap atau gaya seseorang]
3. Behavior [kelakuan / gelagat]

Yang memang intinya memiliki arti kata yang sama dengan kata Moral dari bahasa Inggris,
Yaitu prinsip masyarakat mengenai suatu adat istiadat, tatakrama atau kelakuan.


Buddhisme

Apakah kata sīla memiliki paham yang sama dengan kata moral pada umumnya?
Ternyata tidak. Karena sīla bukan hanya membahas orang harus berkelakuan baik sampai taraf
Diterima nya dimasyarakat, dan seperti yang kita tahu bahwa sīla yang dimaksudkan didalam Buddhisme
Bukan hanya menjalani hal itu, namun terkandung cinta kasih dan belas kasih yang diajarkan yang BUKAN HANYA KEPADA MANUSIA, namun kepada semua makluk. Maka itu didalam Buddhisme sering terdengar oleh umatnya terucap
“semoga semua makluk hidup berbahagia”

Namun apakah tepat bahwa kata sīla diterjemahkan sebagai moral?
Kurang tepat.
Sesungguhnya kata sīla diterjemahkan sebagai Virtuous didalam bahasa Inggris, dan dalam bahasa Indonesia seharusnya Berbudi luhur atau akhlak luhur.
[budi = baik]
[Luhur = mulia, diluar dari yang biasa/awam]

Karena kalau moral lebih menitik beratkan kepada pola etika umum
seperti: tatakrama, adat istiadat dsb.
Yang mana hal ini terkadang akan berlawanan dengan prinsip Buddhisme.
Seperti mempersembahkan tamu sesembelihan yang khusus dilakukan pada hari tertentu; pada saat anak usia satu bulan maka dipesanlah makanan kotak pesanan [order] yang isinya khusus harus ada satu ekor unggas sebagai tanda ping an, kesehatan buat sang bayi; menyuguhkan tetamu makanan dan minuman manis setelah tengah hari; menuangkan liquor kedalam gelas kita sebagai tanda hormat, dsb.

Seperti apa yang Ven. Nanaponika [German Monk] jelaskan mengenai sīla didalam Agama Buddha:
sīla = “virtue”, is a mode of mind and volition [cetanā,q.v.] manifested in speech or bodily action [s.kamma]. It is the foundation of the whole Buddhist practice and therewith the first of the 3 kinds of training [sikkhā,q.v.] that form the 3-fold division of the 8-fold Path [s.magga],i.e. virtuous, concentration and wisdom.

Thursday, April 17, 2014

Included Aeon ~ Antara kappa

During the developed epoch, human lifespan can increase or decrease depending on their morality. When morality is on the rise, human lifespan increases till it reaches an exceedingly great age of 80,000 years at the peak of human morality. When immorality prevails, human lifespan decreases till it reaches a minimum of 10 years at the base of human bestiality. Details of these two periods of increase and decrease in the human lifespan are found in the Cakkavati Sihananda Sutta of the Digha nikaya.

The duration of one cycle in which the lifespan of humans rises from ten years to an exceeding great age and then falls
to ten years again is called an antara kappa, or so called "an included era".



How long is an included era?
In the Manual of Cosmic Order, the Venerable Ledi Sayadaw used the sands of the Ganges for comparison: “If a man were to count the number of years by the grains of sand, picked up one by one from one league of the Ganges, the sands would be exhausted sooner than the years of one included era were all counted.”At the completion of 64 included eras, the developed epoch comes
to an end. Since there are no living beings (in human and celestial realms) during the other three epochs, they are not reckoned in terms of included eras. But as all four incalculable epochs are of the same duration, the Commentaries equate one incalculable epoch(asankheyya kappa) with64 included eras(antara kappa).

In some Pali Texts, one incalculable epoch is quoted as containing either 64 or 20 included eras. This is because there is another type of included era reckoned in terms of the lifespan in Avici Hell that is one : eightieth of a world cycle or one : twentieth of an incalculable epoch. In this way, we can assume that one incalculable epoch is equal to 64 included eras of human beings or 20 included eras of Avici hell beings.

Word Definition of Antara
Antara,(adj.) [Vedic antara,cp. Gr. e]/ntera = Sk. antra (see anta3),Lat. interus fr. prep. inter. See also ante & anto]. Primary meanings are “inside” and “in between”; as adj. “inner”; in prep. use & in cpds. “inside,in between”. Further development of meaning is with a view of contrasting the (two) sides of the inside relation,i. e. having a space between,different from; thus nt. antaraṁ difference.

I. (Adj.-n) 1. (a) inner,having or being inside It.83 (tayo antarā malā three inward stains); esp. as --° in cpds. āmis° with greed inside,greedy,selfish Vin.I,303; dos° with aṅger inside,i. e. angry Vin.II,249; D.III,237; M.I,123; PvA.78 (so read for des°). Abl. antarato from within It.83. (b) in between,distant; dvādasa yojan° antaraṁ ṭhānaṁ PvA.139 139. -- 2. In noun-function (nt.):(a). spatial:the inside (of) Vv 361 (pītantara a yellow cloak or inside garment = pītavaṇṇa uttariya VvA.116); Dāvs.I,10 (dīp’antara-vāsin living on the island); DhA.I,358 (kaṇṇa-chidd° the inside of the ear; VvA.50 (kacch° inner room or apartment). Therefore also “space in between”,break J.V,352 (= chidda C.),& obstacle,hindrance,i. g. what stands in between:see cpds. and antara-dhāyati (for antaraṁ dhāyati). -- (b). temporal:an interval of time,hence time in general,& also a specified time,i. e. occasion. As interval in Buddhantaraṁ the time between the death of one Buddha and the appearance of another,PvA.10,14,21,47,191 etc. As time:It.121 (etasmiṁ antare in that time or at this occasion); Pv.I,1011 (dīghaṁ antaraṁ = dīghaṁ kālaṁ PvA.52); PvA.5 (etasmiṁ antare at this time,just then). As occasion:J.V,287; Pug.55 (eḷaka-m-antaraṁ occasion of getting rain). S.I,20,quoted DA.I,34,(mañ ca tañ ca kiṁ antaraṁ what is there between me and you?) C. expls. kiṁ kāraṇā. Mrs. Rh. D. in trsln. p. 256 “of me it is and thee (this talk) -- now why is this”; J.VI,8 (assa antaraṁ na passiṁsu they did not see a diff. in him). -- 3. Phrases:antaraṁ karoti (a) to keep away from or at a distance (trs. and intrs.),to hold aloof,lit. “to make a space in between” M.III,14; J. IV.2 (°katvā leaving behind); Pug.A 231 (ummāraṁ a. katvā staying away from a threshold); also adverbially:dasa yojanāni a. katvā at a distance of 10 y. PvA.139. -- (b.) to remove,destroy J.VI,56 (v. l. BB. antarāyaṁ karoti).

II. In prep. use (°-) with Acc. (direction) or Loc. (rest):inside (of),in the midst of,between,during (cp. III,use of cases). (a.) w. Acc.:antaragharaṁ paviṭṭha gone into the house Miln.11. -- (b.) w. Loc.:antaraghare nisīdanti (inside the house) Vin.II,213; °dīpake in the centre of the island J.I,240; °dvāre in the door J.V,231; °magge on the road (cp. antarāmagge) PvA.109; °bhatte in phrase ekasmiṁ yeva a. during one meal J I 19 = DhA.I,249; °bhattasmiṁ id. DhA.IV,12; °vīthiyan in the middle of the road PvA.96. °satthīsu between the thighs Vin.II,161 (has antarā satthīnaṁ) = J.I,218.

III,Adverbial use of cases,Instr. antarena in between D.I,56; S.IV,59,73; J.I,393; PvA.13 (kāl° in a little while,na kālantarena ib. 19). Often in combn. antarantarena (c. Gen.) right in between (lit. in between the space of) DhA.I,63,358. -- Loc. antare in,inside of,in between (-° or c. Gen. KhA 81 (sutt° in the Sutta); DhA.III,416 (mama a.); PvA.56,63 (rukkh°). Also as antarantare right inside,right in the middle of (c. Gen.) KhA 57; DhA.I,59 (vanasaṇḍassa a.). -- Abl. antarā (see also sep. article of antarā) in combn. antarantarā from time to time,occasionally; successively time after time Sn.p. 107; DhA.II,86; IV,191; PvA.272.

IV. anantara (adj.) having or leaving nothing in between i. e. immediately following,incessant,next,adjoining J.IV,139; Miln.382 (solid; DhA.I,397; PvA.63 (tadantaraṁ immediately hereafter),92 (immed. preceding),97 (next in caste). See also abbhantara.

--atīta gone past in the meantime J.II,243. --kappa an intermediary kappa (q. v.) D I 54. --kāraṇa a cause of impediment,hindrance,obstacle Pug.A 231 --cakka “the intermediate round”,i. e. in astrology all that belongs to the intermediate points of the compass Miln.178. --cara one who goes in between or inside,i. e. a robber S.IV,173. --bāhira (adj.) inside & outside J.I,125. --bhogika one who has power (wealth,influence) inside the kings dominion or under the king,a subordinate chieftain (cp. antara-raṭṭha) Vin.III,47 --raṭṭha an intermediate kingdom,rulership of a subordinate prince J.V,135. --vāsa an interregnum Dpvs.V.80. --vāsaka “inner or intermediate garment”,one of the 3 robes of a Buddhist bhikkhu (viz. the saṅghāṭī,uttarāsaṅga & a.) Vin.I,94,289; II,272. Cf. next. --sāṭaka an inner or lower garment [cp. Sk. antarīya id.],under garment,i. e. the one between the outer one & the body VvA.166 (q. v.). (Page 47)




Dont forget to see other posting about
Kappa
Asankheyya Kappa


Bahasa Indonesia

Dalam rentang perjalanan manusia, (sesungguhnya) terdapat suatu masa dimana seluruh ummat manusia hanya akan mempunyai batas waktu umur rata-rata hingga 10 tahun. Masa ini terjadi ketika moralitas ummat manusia sedemikian merosotnya, sehingga umurnya hanya akan bertahan hingga 10 tahun, sesudah itu mati. Masa selang antara batas usia manusia rata-rata 10 tahun lalu naik sampai usia yang panjang sekali hingga mencapai delapan puluh ribu ( 80.000 ) tahun, lalu turun kembali hingga batas usia rata-rata menjadi 10 tahun kembali, itu adalah rentang waktu 1 “Antara-Kappa” ( Antara satu kappa ke Kappa berikutnya, itulah “Antara-Kappa” ).

Satu ( 1 ) Asankheyya Kappa adalah sama dengan 20 Antara Kappa. Satu ( 1 ) Asankheyya Kappa, oleh para sarjana dinyatakan, bila dialjabarkan sama dengan 10 pangkat 14 ( angka satu ( 1 ) diikuti seratus empat puluh ( 140 ) angka nol, sehingga lamanya melebihi jumlah jutaan-trilyun tahun. Dan Satu ( 1 ) Maha Kappa adalah sama dengan empat ( 4 ) Asankheyya Kappa, sehingga 1 Maha Kappa lamanya melebihi maha jutaan-trilyun tahun.

Dimensi waktu yang disebut “Kappa” inilah yang digunakan untuk mengukur umur rata-rata makhluk-makhluk yang terlahir dalam alam Rupaloka dan Arupaloka, yang kesemuanya bisa anda lihat pada “Tabel 31 Alam Kehidupan”.

Wednesday, March 26, 2014

Arti Dari Paritta

परित्ता
Parittā


Secara Harafiah, Paritta atau parittā terbagi menjadi dua penggalan kata:
pari+trā
  1. Pari = sempurna, bulat, penuh [rounded, full, accomplished] 圓滿,完整 【無殘缺】
  2. Trā = bantuan, dukungan atau pertolongan [aid or support, assist, help] 援助,護衛,保佑
yang boleh diterjemahkan sebagai "Bantuan sepenuhnya"

sedangkan khalayak menterjemahkannya sebagai "perlindungan"

namun didalam makna yang terkandung 【含義】, kata paritta sering dikaitkan didalam pengertian bahasa pali dengan manto+parittaṁ+vaḍḍhiṁ
  1. Manto = mantra [ajian. ajian dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kata kata keramat yang berharga], sacred text [teks suci] 聖言,聖文。
  2. Parittaṁ = defence, safeguard [penjagaan] 保佑,保護。
  3. Vaḍḍhiṁ = good fortune, walfare or happiness [rezeki, keberuntungan atau kebahagiaan] 福氣。
yang mengandung makna "Rasa aman 【rakkhā】" "penjagaan" dan "berkat"
kata berkat dalam bahasa Indonesia [seperti yang tertulis didalam kamus besar bahasa Indonesia, kata berkat berarti "pengaruh baik, yang mendatangkan keselamatan dan kebahagiaan" atau "mendatangkan kebaikan; bermanfaat; berkah"]

seperti contoh pada kata:
1. Mora Paritta [penjagaan terhadap Burung merak] - guard against peacock
2. Paritta vālikā [jimat pasir yang ditaruh dikepala] - sand worn on the head as an amulet
3. Paritta suttaka [benang yang diikatkan dikepala sebagai jimat] - a thread worn round the head as a charm

Umat Buddha
Kata "Paritta" mengacu pada pembacaan ayat-ayat [short verses] atau wacana kitab suci tertentu untuk menangkal getaran tidak baik atau "atmosphere" negatif yang tersaring didalam Keyakinan kepada Yang tanpa noda tanpa benci tanpa napsu keinginan : suci murni, terarah hanya kepada kebaikan dan kasih sayang.

Praktek membaca sutta paritta [ayat ayat yang dianggap sebagai berkat atau perlindungan] maupun mendengarkan sutta paritta sudah dimulai sejak periode awal dalam sejarah perkembangan Buddhisme, yang pada masa itu dikhususkan untuk para samanera yang baru memasuki Sangha, salah satu gaya pendidikan yang digunakan untuk menghafal pada masa itu, bukanlah untuk hal hal lainnya.

Sesunggunya bagiand dari ayat ayat tertentu memang dianjurkan oleh Buddha untuk diingat, direnungkan serta diimplikasikan dalam kehidupan nyata [seperti contohnya: paritta karaniya metta sutta - sutta mengenai kasih sayang yang tiada taranya], bukan cuma sekedar baca bak mengulang kaset recorder.

Mengapa harus dimengerti, diresapi dalam batin dan diimplikasikan kedalam tindakan nyata?
karena Buddha tahu, dengan demikian, pembacaan ayat ayat suci tersebut tidaklah sia sia, dan dapat memberikan manfaat yang besar buat semua, karena Ajaran Buddha yang terutama mengajarkan kita bukan untuk dilayani, tapi untuk melayani. Demikianpula didalam kebajikan, bukan dengan niat yang masih kotor atau ego, dengan berpikir agar memperoleh keuntungan pahala buat dirinya semata, namun dari segala kebajikan yang dilakukan, kasih sayang yang utama, yang merupakan ungkapan sukacita, karena kasih sayang itu yang siap mengulurkan tangannya bagi orang yang membutuhkan [para fakir, miskin, cacat - sakit, orang tua, yang sedang dalam bahaya, dsb], Kasih sayang adalah mengerti, melepas kesalahan lampau - memaafkan [baik diri sendiri maupun orang lain], Kasih sayang adalah memberi tanpa meminta kembali "bagai sang surya menyinari dunia". inilah salah satu kekuatan dari sebuah paritta, yang membimbing siapapun juga yang membacakannya sekaligus yang mendengarkan pembacaan kitab tersebut akan mengarahkan kita kepada kasih sayang ini, dan membawa kedamaian dihati. Inilah dikatakan bahwa pembacaan paritta memberikan perlindungan [penjagaan] dari bahaya.

Pengulangan paritta yang umat Buddha sering lakukan sesungguhnya merupakan sebuah tuntunan atau bimbingan batin, sekaligus sebagai pengingat kepada umat yang membacanya agar selalu didalam kasih sayang, kewaskitaan [ke-eling-an] agar jangan lengah terhadap yang jahat, agar lebih melepas apa yang khalayak pegang erat erat [dendam, ego "aku lah yang paling ...", dengki / sirik], Mengenang serta merenungkan keluhuran Buddha, Dhamma dan Arya Sangha, bukan hanya untuk tumbuh kepercayaan namun terlebih lagi agar kita bisa berrefleksi terhadap diri sendiri agar juga mencontoh Guru Junjungan [disanalah saddha atau keyakinan yang tidak dibuat buat baru bisa muncul secara alami], sekaligus orang yang membaca paritta guna memohon perlindungan baik itu kepada makluk surgawi ataupun Buddha [Mora Paritta, Ratana sutta, Saccakiriya gattha, Ettavata, dsb].


Kebaikan dahulu atau Meditasi dahulu yang dilakukan?

"Meditasi tanpa introspeksi
adalah bagaikan seorang pasien
yang mendapatkan resep obat
tanpa melalui diagnosa terlebih dahulu"

Orang yang cuma berpikir [semoga ... berbahagia] namun masih juga tidak menghormati orang tuanya,
Orang yang cuma berpikir [semoga ... berbahagia] namun masih juga tidak akur dengan saudara saudarinya,
Orang yang cuma berpikir [semoga ... berbahagia] namun masih juga memandang sebelah mata terhadap orang tertentu,
Orang yang cuma berpikir [semoga ... berbahagia] namun masih juga tidak mengerti kepada siapa ia harus menghaturkan rasa hormat,
kepada pertapa luhur ia tidak menghormat, namun kepada pertapa palsu ia junjung tinggi.

semua pikirannya itu [semoga ... berbahagia] bak khayalan [fantasi] belaka,
apa yang keluar dari ucapannya berbeda dihati, apa yang ada dihatinya berbeda dengan ucapannya.

Kebaikan menuntun orang didalam kasih sayang,
Kebaikan bukanlah melemparkan uang kedalam kotak sumbangan semata, namun siap dengan kedua tangannya sendiri menghaturkan persembahan makanan, kebutuhan yang diperlukan kepada orang orang yang tertimpa bencana alam, kelaparan, miskin hingga tak sanggup membiayai pengobatan dan biaya sekolah, kepada orang yang tertimpa kemalangan dan bahaya, memberikan makanan kepada pertapa sejati yang dalam kehidupannya berjuang didalam mencapai pencerahan, kepada para Arya, kepada pertapa atau brahmana yang hidup bersih [Pabajja]. Semua ini harus diawali dari orang tua seperti yang Buddha sabdakan. Dan yang terpenting dari ini, dari dalam kebaikan yang kita lakukan, kita belajar banyak untuk mengerti kehidupan manusia dan mengerti arti kata hidup susah, sehingga memunculkan inspirasi yang meneguhkan kita pada kebaikan, kasih sayang yang mendalam, pengetahuan, kewaspadaan, pengertian, dsb.

Dengan kebajikan ini yang Buddha katakan sebagai membawa berkat [kekuatan baik atau positif], ini pun dijelaskan kembali di barat sebagai contoh orang yang harmonis, penuh kasih sayang didalam keluarga, suka turut berpartisipasi didalam bakti sosial memberikan sebuah kekuatan penyembuhan didalam dirinya [healing].

Basik atau fondasi dari meditasi adalah batin kita telah meresapi kebaikan. Pada saat ini solemn atau ketenangan batin akan mengukuhkan batin seseorang pada Sang Jalan. Ia bebas dari segala belenggu atau ikatan batin dari pada hal hal keritualan semata, formalitas [baca paritta cuma mengulang tanpa mengimplikasikan, cuma sampai di pikiran saja tanpa berbuat apa apa], karena batinnya diliputi kasih sayang, semua kebajikan yang Buddha ajarkan, fondasinya harus mengerti kasih sayang, dan untuk mengerti kasih sayang orang harus melalui pengalaman sendiri mengerti sakit [paint] dan penderitaan [suffering] manusia atau makluk lain.

Sedangkan meditasi pada tahap awal, umat Buddha dianjurkan untuk melatih meditasi pernafasan, yang harus dibimbing oleh seorang guru yang berpengalaman dibidang ini. Untungnya sekarang banyak meditation center yang dibimbing oleh para bhikkhu sangha di Indonesia, sehingga para umat bisa dibimbing dengan lebih benar didalam pelaksanaan meditasi berdasarkan apa yang diajarkan oleh Buddha.


Rasanya tulisan ini juga bisa menambah wawasan kita
Makna Paritta

Tuesday, October 15, 2013

Buddha's Utterance

न वाक्करणमत्तेन, वण्णपोक्खरताय वा।
साधुरूपो नरो होति,इस्सुकी मच्छरी सठो॥

Na vākkaraṇamattena, vaṇṇapokkharatāya vā;
Sādhurūpo naro hoti, issukī maccharī saṭho.


Not by eloquent speaking,
Nor by good looks one has;
One can be called as a good-hearted man,
if he’s still having jealousy, miserly and crafty.


即使是辯才,
或者相貌俊美;
人意若還保存著妒,嗇及奸,
不可算是“善人”。

Bukan dikarenakan pandai bicara
dan bukan pula karena memiliki penampilan yang baik;
seseorang dapat menganggap dirinya sebagai “orang lurus dan baik”,
apabila ia masih bersifat dengki, kikir dan penuh tipu muslihat.




Source 【經源】:
तिपिटक - सुत्तपिटक - खुद्दकनिकाय - धम्मपद - धम्मट्ठवग्गो २६२
Tipiṭaka - Suttapiṭaka - Khuddakanikāya - Dhammapada - Dhammaṭṭhavaggo 262
三藏經 – 藏經 – 小尼迦耶 – 法句經 – 法住品 第兩百六十二偈
大藏经 – 藏经 – 小部经 – 法句经 – 法住品 第二百六十二偈



Word Bank 【巴利文-生詞表】
1. na, neg.: not.

2. vakkaranamattena: vakkaranamatta-,
Adj.: just only act of speech.
【口才:只會說好聽的話,
富於表現,很雄辯】

It is a compound of:
vak-, N.f.: speech. 【言語,說話】
karana-, N.n.: doing, acting. It is derived from the verb kar- (to do).
【行動,做,幹】
matta-, Adj.: measure, just only, mere.
Ins.Sg. = vakkaranamattena.

3. vannapokkharataya: vannapokkharata-:
beauty of complexion. Lit. beauty and splendidness.
【光彩,壯麗,極好的】

It is a compound of:
vanna-, N.m.: color, beauty. 【充滿色彩-好看】
pokkharata : splendidness, lotus-likeness. 【光彩如蓮花清淨似的】
It is derived from the word pokkhara-: lotus.
Ins.Sg. = vannapokkharataya.

4. va, conj.: or.

5. sadhurupo: sadhurupa-, Adj:
nice disposition, good character,
respectable, having good appearance.
【容貌俊秀而心又善良】

It is a compound of:
sadhu-, Adj.: good, virtuous. 【好,善】
rupa-, N.n.: form, appearance, figure.【外表】
Nom.Sg.m. = sadhurupo.

6. naro: nara: man, person. 【人】

7. hoti: is.
The verb root is bhu- (to be). 3.Sg.act.in.pres.
= bhavati or hoti.

8. issuki: issukin-, Adj:
envious, jealous.
【妒忌,心懷忌恨,嫉妒】
It is derived from the word issa-,
N.f.: envy, jealousy. 【妒】
Nom.Sg.m. = issuki.

9. macchari: maccharin-, Adj:
stingy, selfish, greedy.
【吝嗇,貪婪而且自私自利】
It is derived from the word macchera- :
avarice, stinginess, envy.
【貪及嗇:只顧自己的利益,不管其他怎樣】
Nom.Sg.m. = macchari.

10. satho: satha-, Adj:
deceitful, treacherous, fraudulent.
【奸詐,大騙子】
Nom.Sg.m. = satho.


Mari kita baca renungan berikut
agar batin kita lebih terbuka
dan lebih terbasuh oleh cahaya kasih sayang.
kita serapi pesan yang disampaikan oleh Sang Buddha
dalam posting berikut:
klik disini.

Sunday, August 18, 2013

Mengumpulkan Bekal

Kisah Putra Mahadhana



Putra Mahadhana tidak belajar ketika ia masih berusia muda, ketika menjelang dewasa dia menikah dengan putri orang kaya.

Seperti dia keadaanya, isterinya juga tidak berpendidikan. Ketika orang tua kedua pihak meninggal dunia mereka mewarisi 80 nilai mata uang dari masing-masing pihak dan menjadi sangat kaya. Tetapi mereka berdua bodoh, hanya tahu menghabiskan uang dan tidak tahu bagaimana menyimpannya atau melipatgandakannya. Mereka hanya makan, minum dan bersenang-senang, menghabiskan uang mereka dengan sia-sia. Ketika mereka telah menghabiskan semua uangnya, mereka menjual ladang mereka dan kebun serta akhirnya rumah mereka. Kemudian mereka menjadi sangat miskin dan tidak berguna. Karena tidak tahu cara mencari nafkah, mereka harus mengemis.

Suatu hari, Sang Buddha melihat anak orang kaya ini bersandar di dinding vihara, mengambil sisa makanan yang diberikan oleh para samanera. Melihat itu Sang Buddha tersenyum.

Yang Ariya Ananda bertanya kepada Sang Buddha mengapa Beliau tersenyum.

Sang Buddha menjawab, “Ananda, lihat kepada putera orang kaya ini, dia hidup dengan tidak berguna dan mempunyai kehidupan yang tidak bertujuan. Apabila dia belajar menjaga kekayaannya pada tahap perrtama kehidupannya, dia akan menjadi orang kaya yang teratas, atau apabila dia menjadi seorang bhikkhu, akan menjadi seorang arahat dan istrinya akan menjadi seorang anagami. Apabila dia belajar menjaga kekayaannya pada tahap kedua kehidupannya, dia akan menjadi orang kaya tingkat kedua; apabila dia menjadi seorang bhikkhu, akan menjadi seorang anagami dan istrinya menjadi seorang sakadagami. Apabila dia belajar menjaga kekayaannya pada tahap ketiga kehidupannya, dia akan menjadi orang kaya tingkat ketiga; atau apabila dia menjadi seorang bhikkhu, akan menjadi seorang sakadagami dan istrinya akan menjadi seorang sotapanna. karena dia tidak berbuat apa-apa dalam tiga tahap kehidupannya dia kehilangan seluruh kekayaan duniawinya, dia juga kehilangan kesempatan mencapai ‘Jalan dan hasil Kesucian’ (Magga-Phala).

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 155 dan 156 berikut:

Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci
serta tidak mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi masih muda,
akan merana seperti bangau tua
yang berdiam di kolam yang tidak ada ikannya.

Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci
serta tidak mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi masih muda,
akan terbaring seperti busur panah yang rusak,
menyesali masa lampaunya




“Acaritvā brahmacariyaṃ, aladdhā yobbane dhanaṃ;
Jiṇṇakoñcāva jhāyanti, khīṇamaccheva pallale.”


Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci
serta tidak mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi masih muda,
akan merana seperti bangau tua yang berdiam di kolam
yang tidak ada ikannya.

“Acaritvā brahmacariyaṃ, aladdhā yobbane dhanaṃ;
Senti cāpātikhīṇāva, purāṇāni anutthunaṃ.”


Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci
serta tidak mengumpulkan bekal (kekayaan)
selagi masih muda,
akan terbaring seperti busur panah yang rusak,
menyesali masa lampaunya.

(Dhammapada, 155, 156).


Source 【經源】:
तिपिटक - सुत्तपिटक - खुद्दकनिकाय - धम्मपद - जरावग्गो - १५५ & १५६.
Tipiṭaka - Suttapiṭaka - Khuddakanikāya - Dhammapada - Jarāvaggo - 155 & 156
三藏經 – 藏經 – 小部經 – 法句經 – 老化品 – 155及156偈
大藏经 – 藏经 – 小部经 – 法句经 – 老化品 – 155及156偈


Terjemahan cerita:
Samaggi Phala


Pali Script, please click here.
English Translation, please click here.
中文翻译,请按这儿


Jangan lupa untuk membaca posting berikut mengenai
Nasehat Yang Mulia Buddha kepada para siswa: "Janganlah takut untuk berbuat baik, sebab..."

Daftar Kosakata
【巴利文-生詞表】

  1. Acaritva = tidak menjalankan 【不進行】
  2. Brahmacariyam = Jalan suci, kehidupan murni 【梵行(中單業格)】
  3. aladdha = tidak mencapai / tidak berhasil 【不得,沒有達到】
  4. Yobbane = masa muda 【青春(中單處格)】
  5. Dhanam = kekayaan 【財(中單業格)】
  6. jinna = masa tua 【老】
  7. Koñcā = bangau 【鷺】
  8. Vā= demikian 【如此】
  9. Va = atau 【或者】
  10. Jhāyanti = habis 【消耗】
  11. khīṇa = telah pergi, tiada 【被滅盡,不存在了】
  12. macche = ikan 【魚】
  13. pallale = telaga kecil 【小湖,小澤之類】
  14. Senti = berserakan 【臥,趴,散落,臥倒】
  15. Cap = busur panah 【弓】
  16. Atikhina = telah termakan waktu / usang 【被過度滅盡】
  17. Va = seperti 【如】
  18. puranani = masa lampau 【已度過的時刻,已過去的事】
  19. Anutthunam = dengan menghelakan nafas kesedihan [menyesali] 【悲歎地後悔…】

Friday, July 12, 2013

為何阿彌陀佛必須讀 ㄜ ㄇㄧˊ ㄊㄨㄛˊ ㄈㄛˊ而不是ㄚㄇㄧˊ ㄊㄨㄛˊ ㄈㄛˊ

為何我們必須讀阿彌陀佛為
ē mí tuó fó【ㄜ ㄇㄧˊ ㄊㄨㄛˊ ㄈㄛˊ】
而不是 ā mí tuó fó【ㄚㄇㄧˊ ㄊㄨㄛˊ ㄈㄛˊ】


現在不少講漢語的國家
讀錯阿彌陀佛。
其實我們的佛教並不是從中國來的,
但是從印度才對。
唐朝時代很多中國的信佛弟子【僧伽 – 和尚】
去印度學佛教
而且也把梵文
【梵文語調-發音、天域體[梵文字]、等等】學好,
然後把梵文佛經翻譯到中文字。
其中一位和尚是義淨
【他也去過目前稱為蘇門答臘島-印尼,
交流與學習佛教】


他們也講到這阿彌陀佛的唸法。
問題是爲什麽他們說的是
ē mí tuó fó【ㄜ ㄇㄧˊ ㄊㄨㄛˊ ㄈㄛˊ】
而不是像現代和尚或尼姑所說的
ā mí tuó fó【ㄚㄇㄧˊ ㄊㄨㄛˊ ㄈㄛˊ】

來我們看一下下邊兒的解釋吧



International Alphabet of Sanskrit Transliteration [IAST]

International Phonetic Alphabet (IPA)


自18世紀後期,梵語已經翻譯到拉丁字母音譯。
當前最常用的系統是我們現在稱為IAST(IAST是梵文音譯的縮寫)的,
這是從1888年學術方面作為標準的天城文轉寫音標而到目前為止還使用著。
所以,所謂IAST亦就是梵文的羅馬拼音 【梵文拼音】
如咱所知,每個語言的拼音各有各的特殊或不同發音。
如印尼文唸abc 是 吖 被 誰。
英文怎麼唸abc呢? 就是 誒 比 洗
詳情表格請按這裡


有許多東南亞洲的國家或者西方國家使用羅馬拼音abc
但是各國有所不同的發音這羅馬拼音,因此呢,
我們現在所認識的IPA也出現了,也就是爲了避免任何發音不準,
而能如像各國當地人的說法一樣。

所謂IPA的意思是代表梵文發音的國際音標。
佛經和吠陀也使用這天域體,也就是梵文字 【印度古代使用的文字,書體由左向右寫的】。
中文也有這種IPA,叫做注音符號【ㄅㄆㄇㄈㄉㄊㄋㄌ...】,包括聲調在內。
中文聲調是國音所分的陰平聲、去聲等讀法,
泛稱人的語音或樂器所發出的音辨別每個字的意義。



阿彌陀佛的讀法
【अमिताभ】

天域體 : अमिताभ
梵文音譯字母【IAST】: Amitābha
國際音標【IPA】 : əmɪˈt̪aːbʱə

像咱們知道上面第一條是天域體也就是梵文字,第二是梵文拼音,然後最重要是第三,國際音標也就是準確準確發音的字母,在英文詞典也包含這個國際音標,讓讀者知道怎麼拼音或發音詞典裏面的詞。

梵文所寫道的अमिताभ【梵文拼音字母/sanskrit alphabet:Amitābha】
是我們要讀əmɪˈt̪aːbʱə

要怎麼發音這個əmɪˈt̪aːbʱə呢?
來看一下下邊兒:

ə 的音是 ㄜ
mɪ 得拼 彌
t̪a 是 達
bʱə 是 ㄅㄜ



梵文拼音寫Amitābha 【這第一個字和最後的a不是讀吖,但是ㄜ】
這才是真正的阿彌陀佛讀法的來源。
因此呢,唐朝時代去印度學佛的中國僧伽很瞭解這अमिताभ 【əmɪˈt̪aːbʱə】
怎麼準確地講而翻譯到中文
稱為
ē mí tuó fó
阿彌陀佛
【ㄜ ㄇㄧˊ ㄊㄨㄛˊ ㄈㄛˊ】


而不是
ā mí tuó fó
【ㄚㄇㄧˊ ㄊㄨㄛˊ ㄈㄛˊ】
這ā mí tuó fó是不正確的。


為啥讀ā mí tuó fó
【ㄚㄇㄧˊ ㄊㄨㄛˊ ㄈㄛˊ】不正呢?
因為amithāba【əmɪˈt̪aːbʱə】阿彌陀的意思是
無量,無限制 【指的是無量光亮】。

來咱們看一下那梵文的意思,
【記住:這下的a是梵文拼音,而不是英文或印尼文所以不能讀成丫[a]或"ㄟ"】

“阿彌陀”這個詞,
若分開下來就變成這樣的意思:

  1. a 【ㄜ】 阿 = 非,無 【不】。
  2. mitha 【ㄇㄧ ㄊ丫】 彌陀 = 限制 【有限】。
這上面的“阿”,不像一般中國人使用“啊”的讀音【丫】:
按照漢語的文法,
“阿”【音:ㄚ】是表示一個稱呼的意思。

因此,如果我們把這阿念成丫,那麼彌陀表示一個人的名字了。
就變成“阿限”的意思。 【變成一個有限制的人的意思了,因為彌陀之意是有限制】
是不是與阿彌陀的本義就變不同了吧?
請各位考慮考慮這點。

中文所謂阿【a ; 注音符號:ㄚ】指的是
用於“加在稱呼上的詞頭”
是爲了呼叫他人之名的助詞,如
阿花,阿豪,阿力,等等
如果大家稱佛為ㄚ【阿】彌陀佛
那麼彌陀【有限制】就變成祂的名字了!
意思就變成: 阿【那個】彌陀【有限制】的佛 了。
這不是搞亂了嗎?
現在很多中國和尚隨意稱呼這佛大名。
因為他們不懂歷史和這阿彌陀的本義包括準確梵文的音
他們還不要睜開眼這“阿彌陀”不是中文,有它自己的讀法。

阿彌陀是屬於名詞。
這個詞不是中文,而是從梵文翻譯過來的,也就是外來語的借詞。
就跟“部落格,麥克風,等等”也一樣,這些詞都不是中文,是外來語,
因此不可隨意地改,
早時的那些去過印度學佛法與梵文的和尚
為我們正確地把 अमिताभ əmɪˈt̪aːbʱə 翻譯
阿 【ㄜ】
彌 【ㄇㄧˊ】
陀 【ㄊㄨㄛˊ】
佛 【ㄈㄛˊ】。

爲什麽不能亂改它的音呢?
因為他們很瞭解這 अमिताभ əmɪˈt̪aːbʱə
梵文的讀法,
和瞭解【丫】“阿”的意思是
表示稱呼他人的姓名,小名,
【往往是長輩稱呼下輩或親戚朋友稱呼平輩名字的助詞】
的【丫】“阿”。
所以他們不要用【阿=丫】的音了。

如果在中文里亂改讀法變成丫,
意思就變成:
  • 阿 丫 【那個】
  • 彌陀 ㄇㄧˊ ㄊㄨㄛˊ 【有限制】
  • 的佛了。

所以,阿【丫】的讀法不正確的,


所以漢語詞典寫
ㄜ ㄇㄧˊ ㄊㄨㄛˊ ㄈㄛˊ


學者劉自若認為,
阿ē【ㄜ】彌陀佛才是正確讀音,
因為翻遍辭典字典,
如中文大辭典、辭海、
中華乃至康熙字典,
“阿ē【ㄜ】彌陀佛”才是正確讀音,
包括“阿ē房宮”也是讀作ē【ㄜ】。

註釋:
辭海 = 中國最大的綜合性辭典
中華大字典 = 陸費逵、歐陽溥存等編
康熙字典 =
在清朝康熙年間由文華殿大學士兼戶部尚書張玉書及經筵講官、
文淵閣大學士兼吏部尚書陳廷敬擔任主編】

MENGAPA 阿彌陀佛 TERBACA ē mí tuó fó? BUKANLAH ā ..To..?

"Sesungguhnya orang besar tak henti hentinya belajar, menambah ilmu dan terus memperbaiki kekurangan diri. Tapi orang kerdil akan mengukuhkan kesalahannya didalam kebenaran. Orang yang arif menerima kata kata orang lain bukan karena pribadi atau jubah yang dikenakannya, akan tetapi karena kebenaran dari apa yang diungkapkannya, bukan sebaliknya membenarkan apa yang tidak benar." - [Pepatah kuno] Orang arif dan yang berhati kerdil.

"Tanyakanlah pada Brahmana sejati yang lain, apakah ada yang lebih hebat dari pada kejujuran [kebenaran] dan kasih sayang?" ~ Lord Buddha Saying.



MENGAPA
阿彌陀佛
TERBACA ǝ̄ mí tuó fó?
BUKANLAH ā ..To..?



Nā 南 ㄋㄚ न
mó 無 ㄇㄛˊ मो
ē 阿 ㄜ अ
mí 彌 ㄇㄧˊ मि
tuó 陀 ㄊㄨㄛˊ ताभ
fó 佛 ㄈㄛˊ बुद्धा


Silakan bertanya kepada orang India yang ahli berbahasa Sanskrit,
bagaimanakah cara baca अ 【ǝ̄ - 阿 - ㄜ】? anda akan mendengar hal itu akan terbaca ǝ̄.

kebiasaan kita yang seringkali salah melafal nama
阿彌陀佛 dalam bahasa mandarin, dari

ǝ̄ mí tuó fó

menjadi
a mí tuó fó


學者劉自若認為,
阿ē彌陀佛才是正確讀音,
因為翻遍辭典字典,
如中文大辭典、辭海、
中華乃至康熙字典,
“阿ē彌陀佛”才是正確讀音,
包括“阿ē房宮”也是讀作ē。

Cendikiawan Liu menelaah bahwa aksara 阿
terbaca ǝ̄ adalah pengucapan yang benar, Karena berdasarkan pengecekan kamus, seperti kamus besar bahasa Mandarin 【中文大辭典】, Kamus besar komprehenif bahasa Mandarin di China 【辭海 = 中國最大的綜合性辭典】, kamus bahasa Mandarin zhong hua 【中華大字典 = 陸費逵、歐陽溥存等編】 dan bahkan kamus Kang xi 【康熙字典 = 在清朝康熙年間由文華殿大學士兼戶部尚書張玉書及經筵講官、 文淵閣大學士兼吏部尚書陳廷敬擔任主編】, pelafalan "ǝ̄ mí tuó fó" adalah pengucapan yang benar, Termasuk kata "阿ǝ̄房宫" [kamar Palace] dibaca sebagai ǝ̄ fáng gōng.

Aksara 阿彌陀佛 BUKANLAH terbaca AMITUOFO,
terlebih lagi orang indonesia menyebut amiTHOfo
terjadi 2 kesalahan.
  1. 阿 ē terbaca salah menjadi A
    karena 阿 terbaca ā adalah sebuah partikel kata atau prefix untuk merujuk seseorang
    dalam bahasa Indonesia terdapat kata “si”
    [contoh: si Prajnadeva, si Hadi, si Hendro]

    Tapi apa maksudnya dengan "si", apa artinya? Sama dengan 阿,
    "si" dalam bahasa Indonesia atau 阿 dalam bahasa Mandarin digunakan hanya untuk merujuk kepada seseorang, untuk memanggil, yang biasanya mengambil karakter terakhir dari nama chinese seseorang setelah huruf 阿,
    阿 + aksara terakhir dari nama seseorang.


    Misalnya, nama anda adalah CHEN NYUK MOI, maka boleh lah dipanggil A Moi. jadi artinya "Si Moi". Atau seperti nama Indonesia, misalnya Hendro Bina Atmaja, kita panggil "Si Hendro" tapi untungnya di bahasa Indonesia tidak ada budaya penggunaan 阿 atau si.
    jadi, begitu anda menyebut a mi tuo, berarti namanya adalah mi tuo, yang artinya terbatas [mitabha]. Padahal 阿彌陀 【ǝ̄ mí tuó】 artinya TIDAK TERBATAS tapi karena ia menyebutnya A, maka artinya SI TERBATAS!. Kata 阿彌陀 adalah satu kata utuh, yang gak boleh dipisah pisahin lagi, seperti dalam bahasa Indonesia, kata"Apartemen" gak boleh dipisah pisahin lagi, karena kalo dipisah jadi "Apar" dan "Temen", jadi apa artinya ini? demikian juga dengan 阿彌陀, yang mana kata 阿彌陀 ini adalah kata serapan dari bahasa asing, bukan bahasa mandarin, jadi bahasa Mandarin meminjam kata dari bahasa Sansekerta.

    Jadi jika kita mengucap ā mí tuó fó = artinya jadi "si Buddha yang TERBATAS". weleh weleh
    ini karena kalian menyamakan fungsi kata 阿 [a] pada 阿妹 【baca: a moi】 untuk menyebut nama Buddha.
    namanya bukan Mithabha! mengapa masih juga salah mengucapkan "阿"?

    amithāba artinya [cahaya yang] TIDAK terbatas 無限之光。
    1. ǝ̄ artinya tidak
    2. mithabhǝ artinya tak terbatas [merujuk kepada cahaya]
    jadi huruf ǝ̄ dari ǝ̄mithāba artinya TIDAK.
    coba kita bandingkan lagi dengan kata lainnya "ǝ̄himsa"
    artinya Tanpa kekerasan, a nya disitu artinya TIDAK.

    Jadi kalau kita bilang ā mí tuó
    artinya akan BERUBAH MENJADI Si Mitabha. @@

    Pada huruf asli sansekertanya terbaca अमिताभ əmɪˈt̪aːbʱə
    [Bahasa Indonesia akan terbaca sebagai ǝmitabh. "e" disini diucapkan seperti
    saat kita mengucapkan "empat", "benar", tapi bukan e pada kata "Enak" atau "meteor"]

    [yang alfabet Sansekertanya tertulis Amitābha, sekali lagi ini adalah alfabet Sansekerta
    Bukan alfabet Indonesia, maka itu jelas cara bacanya beda dengan bahasa Indonesia.
    Seperti cara baca abc Bhasa Indonesia dengan Inggris pun tidaklah sama.
    Jangan pernah menyama nyamakan yang pada kenyataannya tidak-lah sama.]
  2. terlebih lagi yang kedua :
    陀 tuó disalah bacakan oleh orang Indonesia menjadi Tho atau to!
    huruf to atau tho tidak akan pernah anda temukan baik dalam
    Kamus mandarin ataupun saat ketik dikomputer
    .

    Mandarin tidak ada pin yin to atau tho.
    yang ada dan sering kita dengar adalah cina TOTO hahaha


sama saja dengan kita tidak boleh
main asal ganti KATA BUDDHA menjadi BODDHA, ATAUPUN BUDA!
karena artinya beda atau malah jadi tidak ada artinya.


Kalau kita mau telaah lebih dalam lagi, bahkan dinegara Asia Timur
[China, Taiwan, Hongkong, Macao]
para Bhikshu disanapun gak berarturan, ada yang nyebut amituofo juga.
ini karena kebiasaan dari awal yang tidak standard terlebih lagi tidak ada yang koreksi. Kalau mau jujur, ini karena mereka tidak dibekali dengan pengetahuan yang standart untuk menyebut nama Buddha ini. Mereka jarang mengerti bahasa Sanskrit, yang merupakan sumber acuan bagi yang ingin belajar Buddhism Mahayana, banyak diantara mereka beranggapan Buddhism yah bahasa mandarin. yang bahkan tak sedikit pun mengajarkan ajaran diluar Dharma Buddha, yah yang penting mirip mirip lah [差不多], juga praktek ramal meramal juga terjadi di vihara di China yang mana nujum [看命 khoa mia] bukanlah bagian dari ajaran Buddha. Buddha berkata agar para bhikkhu tidak melakukan ramal meramal, karena itu ilmu rendah, yang Buddha katakan sebagai Tiryagjana vijñāna - तिर्यग्जन विज्ञान atau tiryagjana vijja / vijñā - तिर्यग्जन विज्ञा yang artinya "Gaya ilmu pengetahuan binatang" 【畜類技法 - 畜生之學】.

sampai kadang kalau lagi ceramah ada beda mengenai kisah kisah kitab dari siswa Buddha. Kadang seenaknya saja, tapi gak jelas acuannya. apa mungkin juga karena kurangnya pengetahuan mengenai sutra wejangan kitab Tripitaka? Mulai penyebutan dari nama Buddha sampai kekisah tipitaka juga terjadi pergeseran dari apa yang tak sedikit dari mereka wejangkan, karena suka terungkap yang beda. [tak sedikit dari bhikshu penceramah terkadang rada rancu, terlebih berbicara mengenai catur ariya satyani, juga kurangnya pengetahuan dan pengalaman meditasi Vipasyana diantara banyak mereka, malah ada bhikshuni buka restoran vegetarian di negri asia timur sana. weleh weleh iki piye toh? arep dadi pertapa opo arep cari dana iki? sungguhan, ora ngartos ngeliatnya. kan cari dana untuk merawat vihara bukan urusan bhikshu, tapi ada umat pengurus. wong Buddha aja nda cari dana, atau muridnya nda cari dana dengan berjualan. masa Buddha dan para bhikshu berjualan buka warung vegetarian, kan nda mungkin, tapi entahlah bhikshuni itu mendapatkan ilham yang jatuh dari surga ke tujuh barangkali?]

[atau seperti alasan yang sering dilontarkan: yang penting ajarannya mengandung kasih sayang! tapi yang lainnya dibuang, seperti kebenaran atau kejujuran, dan terutama vinaya, sebagai SUMPAHNYA didalam menjalankan kehidupan suci. seperti kisah pengalaman yang diceritakan bhikshu dari malaysia yang nyemprot baygon, alasannya karena beberapa hari yg lalu sy sudah bilang lho, kalo sudah hari ke x harus pergi, 不離開的話,不好意思,噴殺蟲劑囉 [kalau tidak pergi, maaf saya semprot baygon] dan kejadian itu terjadi didalam vihara barangkali]


Demikianlah pergeseran Dhamma terjadi, bila kita balik bertanya "kok begitu?", respon yang nanti akan kita terima berupa alasan yang banyak, intinya dia yang bener, yang lain salah. untuk masalah kesalahan penyebutan nama Buddha 阿彌陀佛 juga demikianlah, yang bener tidaklah mereka gubris tapi sebaliknya mengukuh-benarkan yang sudah salah, malah berbalik memilih yang ngasal saja, alasannya: "yang penting kira kira begitulah itu". hahaha



Jika memang demikian permasalahannya
Marilah kita check ke akar bahasanya,
yaitu bahasa sanskrit berserta pelafalannya:

Agama Buddha bukanlah agama dari Cina.
Agama ini berasal dari India,

Istilah istilah seperti 佛陀 fó tuó [Buddha] dsb, yang digunakan dalam bahasa Mandarin sebenarnya tak lain ADALAH bahasa Serapan [dari bahasa asing, atau bukan bahasa Mandarin asli] yang diterjemahkan oleh para bhikshu pada dinasti Tang [sekitar tahun 634-713 masehi] yang belajar bahasa sansekerta dan pali ke india salah satunya adalah 義淨 【Yì Jìng】, yang mana 義淨 menerjemahkan naskah-naskah Buddhism dari bahasa Sanskerta ke bahasa Mandarin, dan karena ia mengerti betul cara lafal bahasa sansekerta dengan benar, maka pada saat penerjemahan kebahasa Mandarin pun mereka lakukan dengan hati hati.
[tapi sayang, pada masa sekarang tidak sedikit yang disalah ucapkan oleh bhikshu bhikshuni jaman sekarang.
seperti contohnya 阿彌陀佛, hal ini tentu karena kurang nya belajar agama dari acuan atau sumber awal yang memang acuan bagi seluruh umat Buddha, yaitu Tipitaka. Maka itu pada scholar Buddist (cendikiawan Buddhist) telah menemukan didalam studi / riset [penyelidikan] bahwa Tipitaka [Pali] dan Tripitaka [sansekerta] sesungguhnya mirip, tak beda jauh, tapi masalahnya yang perlu kita hati hatikan adalah TRIPITAKA CHINESE, karena telah masuk ajaran non-Buddhist, yaitu konsep dan dogma Brahmanism yang pada jaman dahulu itu dibawa oleh bhikshu yang pergi keIndia, dan kitab kitab Brahmanism tersebut diterjamkan kedalam bahasa mandarin dan dijadikan sebagai kitab Buddha, contohnya pernah dengar upanishad? check kembali istilah ajaran upanishad itu dari agama apa?]


Bahasa sansekerta
adalah bahasa Asia yang menggunakan karakter atau aksara
देवनागरी devanāgarī [terbaca: dewnageri atau dewnagri, Pelafalan internasional fontetik nya adalah d̪eːʋˈnaːɡri]
huruf देवनागरी devanāgarī ini belakangan dibuatkan fonetik latin, agar orang orang diluar India pun bisa melafalkan sutra sutra Buddhism [mahayana] dan Hindu.
yang disebut dengan istilah romanisasi aksara devanāgarī
yang secara internasional disebut sebagai
The International Alphabet of Sanskrit Transliteration (IAST).

sedangkan IAST ini perlu phonetic guide [tata cara pelafalan] yang tepat.
karena CARA BACA alfabet atau fonetik Sansekerta 【IAST】 ini TIDAKLAH SAMA dengan cara baca alfabet bahasa Indonesia ataupun BAHASA LAIN didunia, Maka itu agar dapat dilafalkan secara benar atau tepat, maka kita perlu mengerti apakah itu IPA?

Istilah IPA adalah singkatan dari
International Phonetic Alphabet [IPA]
[Pelafalan alfabet Internasional].
adalah sarana untuk melafalkan huruf abc sansekerta tersebut
[yang disingkat menjadi IAST]



The International Alphabet of
Sanskrit Transliteration (IAST)

Huruf 【IAST】 inilah yang seringkali kita lihat di buku buku doa agama Buddha teks Sansekerta.
Tapi apakah kita sudah benar cara bacanya?
bahkan terkadang mungkin bisa kita temukan huruf IAST dalam buku doa agama Buddha
dengan kesalahan penulisan text Sansekerta di negara kita Indonesia.

Inilah sumber masalahnya! karena guru guru pembimbingnya sendiri gak tau?
Atau Cuma ikut ikutan saja, atau cuma belajar sedikit, bahkan tidak pernah sama sekali.
Ini yang repot. Karena arti bisa berbeda.


Silakan lihat list pelafalannya:
Klik disini

Didalam tabel alfabet sansekerta kita melihat
huruf "A" 【 अ 】 yang didalam fonetik alfabet international [IPA] tertulis sebagai "ə",
bagaimanakah bacanya?

Mari kita pahami terlebih dahulu,
Melalui perbandingan kata sbb:
Kata IMPOSSIBLE [bahasa Inggris]
Sudah semestinya dibaca sesuai dengan aturan tatabaca bahasa Inggris bukan?
Atau APAKAH BOLEH KITA membacanya sesuai dalam bahasa Indonesia?
atau karena anda adalah orang Indonesia, maka semua bahasa asing harus disesuaikan dengan lafal atau cara baca bahasa Indonesia? seperti contoh IMPOSSIBLE apa benar jika kita baca menjadi im po si ble [sesuai cara baca dalam bahasa Indonesia]?

Tentu saja tidak, karena orang yang mendengar anda berbicara demikian
dalam bahasa Inggris cuma kelihatannya jago bahasa Inggris [BAGI YANG TIDAK MENGERTI]

tapi sesungguhnya, mengucapkan impossible menjadi im po sib le
[seperti dalam aturan baca alphabet Indonesia]
akan terkesan ah ini mah sok pinter saja, padahal ngucapnya salah.
Yang benar seharusnya adalah im-ˈpä-sə-bəl.

Fonetik alphabet internasional dari “ə” pada contoh lafal impossible diatas [im-ˈpä-sə-bəl]
dilafalkan seperti saat kita mengucap e pada kata “bEsar” Atau “gElas”.
bukanlah huruf e seperti pada saat kita mengatakan “alfabEt” Atau “Enak


Jadi Bagaimana lafal Amitābha secara tepat?

अमिताभ
Alfabet / fonetik Sansekerta 【IAST】: Amitābha
International fonetik【IPA】 : əmɪˈt̪aːbʱə

Setiap Bahasa yang menggunakan huruf alfabet abc,
MEMILIKI ATURAN CARA BACA NYA MASING MASING!

seperti yang kita Tahu bahwa ABC Indonesia dipengaruhi oleh
alfabet bahasa Belanda yang kita daur ulang kembali seperti contoh huruf c,
pada awalnya c dibaca se. tapi Bahasa Indonesia pada jaman sekarang menjadi ce.

Demikian pula bahasa Inggris, a tidaklah dibaca a seperti dalam bahasa Indonesia,
jadi pelafalan alfabet bahasa Inggris akan terbaca
ei, bi, si, di, i, ef, ji,dan seterusnya didalam bahasa Indonesia,
walaupun menggunakan huruf atau alfabet yang sama tulisannya dengan bahasa Indonesia [a,b,c,d,e,f,g,...],
tapi TETAPLAH tidak boleh dilafalkan berdasarkan tata cara baca alfabet Indonesia.

jadi saat kita melihat kata dalam bahasa Inggris, contohnya: LONDON,
huruf ini bukan terbaca Lon don, tapi Lan dən.
[huruf ə ini terbaca e dalam bahasa Indonesia seperti saat kita melafal "dEnda" "dEngar" "dEras"]

Demikian pula Fonetik alfabet Mandarin 漢語拼音 [羅馬拼音 - Romanized Chinese Phonetic Alphabet]
yang dimulai dengan huruf b,p,m,f,...;
tidaklah benar jika dilafalkan dengan menggunakan tatacara pelafalan bahasa Indonesia.

Jadi, alfabet Mandarin huruf b tidak lah tepat jika dibaca melalui tatacara pelafalan dalam bahasa Indonesia menjadi be, tapi yang benar adalah pə, phə, mə, fə, dsb. [ə disini terbaca e seperti saat kita ucapkan "gE-las","bE-tul", "sE-pi"]
walaupun alfabet Mandarin juga menggunakan huruf abc yang mirip dengan kita: b,p,m,f, dst.
maka itu kata "Běi jīng" tidaklah boleh dibaca Bei Jing,
tapi alfabet Indonesia SEHARUSNYA menuliskan "PEI CING".
Karena satuan kata itu adalah bahasa Mandarin, maka kita harus sesuaikan dengan
tatacara aturan pelafalan bahasa asing tersebut.

Alfabet Bahasa Spanyol pun demikian,
alfabet ñ tidaklah sama dengan n dalam alfabet bahasa Indonesia, tapi alfabet kita harus
tertulis NY, jadi el niño bacanya bukan el nino, tapi el Ninyo [The Son / artinya putra]

Jadi dari contoh2 diatas, kita semua diajak untuk mengerti atau paham
bahwa saat kita mengucapkan bahasa asing, kita tidak boleh seenaknya mengubah
pelafalan bahasa tersebut menjadi seperti dalam bahasa kita.

Dalam huruf "International fonetik" atau IPA
[Cara Pelafalan Bahasa Internasional]
yang mana IPA ini digunakan sampai detik ini,
diberbagai kamus besar bahasa Inggris International yang anda beli,
contohnya: longman, oxford, dsb.
sebagai panduan agar supaya kita bisa membaca tiap kata dengan tepat dan benar.

sehingga PERMASALAHAN huruf अमिताभ INI BISA MENJADI JELAS SEKARANG
BAGAIMANA CARA YANG TEPAT DAN BENAR mengucapkannya?
Yang fonetik sansekertanya tertulis Amitābha,
SEDANGKAN INTERNATIONAL PHONETIC [IPA - cara baca / pelafalan] tertulis əmɪˈt̪aːbʱə

Didalam bagan pelafalan alfabet fonetik bahasa sansekerta, huruf "a" 【 अ 】 dibaca ə
Coba lihat :
  • IAST = a
  • देवनागरी devanāgarī = अ
  • IPA = ə
  • Bahasa Indonesia = e [seperti saat mengucapkan e pada “bEnar”, "bEtul"]

Klik disini untuk melihat tabel pelafalan yang tepat.

dan sebagai perbandingan untuk pelafalan huruf "ə", disini diambil contoh huruf
bahasa Inggris dengan pelafalan IPA nya sehingga anda mengerti bagaimana cara pelafalan
ə ini dengan tepat dan benar agar nantinya bisa membaca huruf "a" 【 अ 】 ini dengan tepat,
contoh huruf bahasa Inggris yang menggunakan lafal ə:
1. “Aside”
IPA [fonetik alfabetikal internasional] nya akan tertulis “əsaid” [berdasarkan kamus Oxford]
2. Ashame
IPA nya akan tertulis “əʃeimd” [oxford]

lalu bagaimana cara bunyinya ə pada ashame atau aside?
Coba buktikan dengan google translation untuk inggrisnya dulu.
Anda bisa dengar sendiri apakah huruf fonetik international əsaid akan terbaca
Sesuai a atau ə pada kata aside.

Jadi saat kita membaca
अमिताभ
Alfabet / fonetik Sansekerta 【IAST】: Amitābha
Maka akan terbaca əmɪˈt̪aːbʱə

Dan tanyakan orang yang ahli Sanskrit dari india, jangan orang indo,
karena bahkan bahasa Inggris sekalipun, yang sudah awam dan international digunakan, masih bisa salah melafal,
seperti contoh tak sedikit yang mengucapkan kata "ask" dengan melafalnya sebagai "axe" [terbaca: aks], impossible terbaca imposibel [mestinya impasəbəl], dsb, apalagi bahasa Sansekerta!?
Termasuk orang tionghua Indo yang seringkali salah mengucapkan kata 吃 chī [makan] menjadi 廁 cè [wc / toilet], silakan anda dengar, tak sedikit bahkan guru mandarin yang mengucap atau melafalkan kata 吃飯 chī fàn 【Makan nasi】 menjadi cè fàn 廁飯 【toilet / wc + nasi】.

jadi untuk kata अमिताभ [əmɪˈt̪aːbʱə] ini, anda harus tanyakan langsung
kepada orang India yang biasa membaca kitab Hindu ataupun Sutra Mahayana.
Silakan bertanya padanya bagaimana cara baca huruf sansekerta berikut ini:

anda akan mendengar sendiri bagaimana mereka melafalkan huruf अमिताभ
akan terbaca अमिताभ əmɪˈt̪aːbʱə
sedangkan bʱə hanya terdengar bə [dengan ə yang terdengar sekelibat saja. yang terdengar seperti seolah olah əmɪˈt̪aːb semata tapi ada hembusan yang terdengar huruf ə pada kata bʱə]

PERSIS seperti yang diucapkan
oleh BHIKSHU CINA YANG AHLI BAHASA SANSEKERTA dan berbahasa MANDARIN
pada jaman dulu kala itu saat menterjemahkan kata अमिताभ əmɪˈt̪aːbʱə menjadi
阿彌陀佛 ē mí tuó fó. Karena memang beliau beliau mengerti
dengan baik dan benar bahasa Sansekerta dan mandarin
jadi saat perterjemahan pun Mereka menggunakan lafal yang tepat,
sebenarnya bukan penerjemahan, tapi bahasa serapan [借詞]
karena अमिताभ əmɪˈt̪aːbʱə bukanlah bahasa Mandarin, tapi bahasa Sansekerta.

Dahulu Kala di Indonesia juga
salah mengucapkan kata 佛教

Di Indonesia pada dekade yang lalu dimana bahasa Mandarin belum
berkembang seperti sekarang seringkali menyebut AGAMA BUDDHA sebagai

佛教
Fú jiào

Aksara 佛 memiliki apa yang dalam bahasa Indonesia disebut
sebagai homografi [Bahasa Inggris menyebutnya sebagai Homograph],
dalam bahasa mandarin disebut 破音字 atau 多音字.
yang memiliki 2 cara baca atau lebih,
yang mana masing masing suara memiliki arti yang sangat jauh berbeda.

coba disimak:
1. 佛 fó, ini diambil dari bahasa asing
[bahasa serapan, karena agama Buddha bukanlah berasal dari Cina,
maka terjadilah bahasa serapan],
yaitu dari bahasa Sansekerta atau pali,
yang artinya Buddha, maka pembacaannya fó,
dengan frase kata lengkapnya tertulis 佛陀 fó tuó

2. 佛 fú : ini baru kata mandarin asli,
yang artinya mirip.
frase kata lengkapnya adalah 仿佛 fǎng fú
Jadi saat kita bilang Agama Buddha
tidak boleh seperti yang orang orang tionghua Indonesia pada jaman dulu
yang bilang bahwa agama Buddha disebut sebagai fú jiào, Tapi yang benar 佛教 fó jiào.

【不可以像咱們的長輩所說的,把仿佛的佛說在佛教的佛,這的確不是大同小異,而是很大的錯誤。真讓人見笑啊,仿佛的意思是“如 或 像”,佛教的佛根本與仿佛的佛不相關。仿佛的佛本來就是中文字,而佛教的“佛”是外地借來的詞語 【借詞】, 那兩個字的意義不可被認為近義或相似。】


============================
Coba kita telaah lagi
佛fó = Buddha
教jiào = AJaran
佛教 fó jiào = Agama Buddha
Tapi kalau kita bilan fú jiào, coba kita telaah:
佛fú = Mirip
教 jiào = Ajaran
佛教 fú jiào = ?????? apa ini? Ajaran mirip?
============================




Demikian, semoga memberi pengertian
dan pengetahuan yang jelas mengenai
tata bahasa ini.
南無阿彌陀佛
【Nā mó ǝ̄ mí tuó fó 】。

Sunday, May 26, 2013

Arti Kata Sadhu

Sādhu


kata Sādhu adalah sebuah kata sifat, boleh diartikan:

  1. baik [seperti pada saat anda dengan senang atau gembiranya berkomentar, “Baik sekali!” “Mantap!”, seperti pada saat orang berhasil dan teriak “yes!”],
  2. baik [seperti pada saat anda berpendapat bahwa tindakan atau perbuatan itu “baik”],
  3. baik [seperti pada saat anda menyetujui suatu kesepakatan, “baik-lah”]



Stem [akar kata]
Akar kata sādhu pada awalnya sebenarnya adalah sādh yang berarti succeed「成功 Chéng gōng ~ Xim Kong」atau berhasil atau terwujudnya prestasi yang kita perjuangkan.



English Translation「英文翻譯」
sādhu:[adj. Vedic sādhu, fr. sādh]
  1. good; virtuous; profitable, excellent, succeed.(adv.)baik, bermanfaat. 善「Shàn」
  2. well; thoroughly(ind.)sungguh sungguh sepenuhnya setuju 真「zhēn」
  3. yes; alright. (adv.) baiklah 好「hǎo」


中文翻譯「Chinese Mandarin Language - CML Translation」
Dalam bahasa mandarin terjemahannya adalah
善哉
「Shàn zāi」

  1. 善 「Shàn」artinya kebajikan [Goodness / virtuous]
  2. 哉「zāi」adalah sebuah kata pelengkap [particle] yang merupakan sebuah kata seru [untuk kalimat positif atau statement ~ ungkapan atau pernyataan seperti sebuah persetujuan dengan kesungguhan] dan didalam bahasa Mandarin Kuno, kata 哉 ini digunakan untuk berstatement [kata seru] yang artinya mengindikasikan suatu persetujuan!

Jadi 善哉「Shàn zāi」berarti “Benar benar baik!” atau “sungguh baik” [It’s a real virtuous! Real Good! Good news!].



Arti kata Sādhu「善哉的含義」
Kata sādhu ini sudah digunakan sejak sebelum Buddha Dhamma diberitakan diseluruh Jambudvipa, dan tertulis di kitab Veda mengenai kata sādhu ini. Hingga kita mengenal istilah “sādhanā” yang berakar dari kata sādhu ini. sādhanā ini berarti “berhasil menggapai jalan lurus” [make straight]. Maka itu pada kaum kependetaan atau apa yang disebut kaum Brahmana [para pertapa India], mereka disebut sādhú [untuk pertapa pria, yang artinya pria baik dan lurus akhlak atau budi nya] dan sādhvī [untuk pertapa wanita, yang artinya Wanita baik dan lurus akhlak atau budi nya]. Para bhikkhu juga disebut sādhú dan bhikkhuni disebut sādhvī.


Kitab Hindu


Artinya:
Oh Bharata! Kapanpun terdapat penyelewengan terhadap kebenaran,
dan pengagungan terhadap yang tercela, maka Aku sendiri yang akan maju!

Demi perlindungan [paritrā; Pali: paritta] terhadap orang orang yang baik [sādhūnaṃ],
untuk menghancurkan kepada ia yang membawa bencana kejahatan,
demi meneguhkan kebenaran, Aku lahir dari jaman ke jaman.

[Bhagavad Gita, Kitab ke 4; bait 7&8]

Tipitaka - Dhammapada「三藏經 - 法句經」
Di kitab Tipitaka sendiri kata sādhu dipakai juga oleh Yang Luhur Guru Agung ~ Buddha Gotama:


१६३. 163
सुकरानि असाधूनि, अत्तनो अहितानि च।
Sukarāni asādhūni, attanō ahitāni ca.
यं वे हितञ्‍च साधुञ्‍च, तं वे परमदुक्‍करं॥
Yaṁ vē hitañ‍ca sādhuñ‍ca, taṁ vē paramaduk‍karaṁ.
Source 「經源」
Tipiṭaka (Mūla) - Suttapiṭaka - Khuddakanikāya - Dhammapada - 12. Attavaggo - 163
तिपिटक (मूल) - सुत्तपिटक - खुद्दकनिकाय - धम्मपद - १२. अत्तवग्गो - १६३.


Word bank「生辭表」
“Sukarāni asādhūni attano ahitāni”
  • Sukarāni 「Sukara」: easy to be done [容易進行的,容易去做的] mudah dikerjakan
  • asādhūni 「a-sādhu [a-sādhu]」: bad thing, dirty trick or wicked [邪惡, 惡劣, 壞, 不善良] yang tidak luhur
  • attano: by ourself, by someone [一個人;自己] oleh seseorang; oleh diri sendiri
  • ahitāni 「Ahita」: harmful, unkindliness [危害 ~ 不良有害的行為] yang menjerumuskan - mencelakai, yang tidak baik.

“Yaṃ ve hitañca sādhuṃ ca taṃ ve paramadukkaraṃ.”
  • yaṃ: [adv.] whatever thing, due to, because of, towards. 「任何,對,向」apapun
  • Ve: [emphasis] indeed 「真實地」sungguh
  • hitañca [hita] = goodness, kindliness and beneficial 「友善,善良」yang baik, nilai nilai keluhuran, yang membawa kebajikan dan bermanfaat.
  • taṃ = thou 「汝」Engkau
  • paramadukkaraṃ:
    Parama [adj]: the most, excellent 「最」sungguh sungguh, paling.
    dukkara [adj]: difficult to do「難於去做」

Terjemahan yang dicantumkan oleh Samaggi Phala:
「Samaggi Phala 網站貼上的翻譯」

Sungguh mudah untuk melakukan hal-hal
yang buruk dan tak bermanfaat,
tetapi sungguh sulit untuk melakukan hal-hal
yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri.

對於不道德的事兒,自己容易去做。
而且有關善德的事,自己難以辦到。

Terjemahan dari bahasa Pali:
「巴利文翻譯成印尼文」
“Hal hal yang tidak luhur dan yang mencelakai, sungguh mudah dilakukan oleh diri sendiri.
terhadap hal hal yang luhur dan bermanfaat engkau merasa berat sekali untuk menerapkannya.”
自己對不善良和危害性的事兒不難去做,
對於有善德及有慈善的事,你難以辦到。

-- ~ --

223. [२२३]
अक्‍कोधेन जिने कोधं, असाधुं साधुना जिने।
Akkodhena jine kodhaṃ, asādhuṃ sādhunā jine;
जिने कदरियं दानेन, सच्‍चेनालिकवादिनं॥
Jine kadariyaṃ dānena, saccenālikavādinaṃ.
Source 「經源」
Tipiṭaka (Mūla) - Suttapiṭaka - Khuddakanikāya - Dhammapada - 17. Kodhavaggo - 223
तिपिटक (मूल) - सुत्तपिटक - खुद्दकनिकाय - धम्मपद - १७. कोधवग्गो - २२३.


Word bank「生辭表」
“Akkodhena jine kodhaṃ, asādhuṃ sādhunā jine;”
  • Akkodhena [a + kodha] = good at or understand how to self conciliation, self consolation [自己撫慰, 自我安撫, 安慰自己] pandai atau tahu untuk berdamai dengan diri sendiri.
  • jine [jina - Jināti - jayati] = conquer [戰勝 - 征服 - 克服] menaklukkan, menundukkan.
  • kodhaṃ [kodha] = anger [怒氣] kemarahan, rasa marah.
  • asādhuṃ = non virtuous, not good, unkindness plan. [壞的,不善良] ketidak luhuran, niat jahat.
  • sādhunā = virtuous, goodness, kindliness [善良,好的] keluhuran, kebaikan.

“Jine kadariyaṃ dānena, saccenālikavādinaṃ.”
  • kadariyaṃ = avarice - stingy [慳吝 - 小氣] kikir tanpa adanya toleransi.
  • dānena = in offering alms [奉獻做功德] melakukan kebajikan dengan memberi sedekah.
  • saccenālikavādinaṃ
  • saccena = the upright, truthful, honesty [正直 - 誠實] keadilan [lurus tidak memihak], kebenaran dan kejujuran.
  • alika = fake, camouflage [虛偽, 奸詐] penipuan, keterpihakan dan pencurangan
  • vacana = discussion, talk [討話] diskusi, pembicaraan.

Terjemahan yang dicantumkan di web samaggi phala:
「Samaggi Phala 網站貼上的翻譯」
Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih
dan kalahkan kejahatan dengan kebajikan.
Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati,
dan kalahkan kebohongan dengan kejujuran.

用慈悲打敗怒氣
用善良打敗邪惡
用大方打敗吝嗇
用誠實打敗欺詐

Terjemahan dari bahasa Pali:
「巴利文翻譯成印尼文」
Taklukkan rasa marah dengan tahu bagaimana berdamai dengan diri sendiri.
taklukkan niat jahat dengan memahami nilai nilai keluhuran.
Taklukkan rasa tidak toleransi atau khawatir berlebih didalam kehilangan harta dengan pemberian.
Taklukkan kepalsuan dan kamuflase dengan ucapan kebenaran yang tanpa memihak.

學會如何自我撫慰而克服自己的怒氣。
心裏要學會何事不善何事有德,所以能克服本身的邪惡。
體會分享的意義,讓自己克服心裡存在的自私行為。
理解啥是公正啥是不偏不倚,讓自己能克服本身的虛假。



Note:
Jadi indikasi dari kata Akkodhena bermakna "berdamai dengan diri sendiri, tau caranya bagaimana menghibur diri saat dirudung kemalangan sehingga batin terkendali seperti yang diceritakan dalam kisah dari pada ayat Dhammapada ini". Sehingga para pelajar umat Buddha yang ingin belajar lebih jelas makna dari kata yang disampaikan oleh Guru Luhur - Buddha pada bait Dhammapada ini. Kata A + Kodha artinya tanpa kemarahan, kemarahan bisa dipadamkan hanya melalui pendamaian batin dengan cara menghibur diri [self console] melalui kebenaran. Melalui penjelasan ini, umat Buddha paham apa yang Sang Buddha maksudkan dengan Akodha [tanpa kemarahan] yaitu dengan jalan berdamai dengan diri sendiri.

Kalau terjemahannya cinta, cinta yang dikasih [cinta kasih], kata cinta masih mengandung favoritisme, yang masih mengandung suka sekali atau sayang benar terhadap SATU atau BEBERAPA HAL [ada unsur memanjakan sesuatu yang dia suka sekali], yang bisa merujuk kepada arti "favoritisme" yang berarti masih terdapat keterpikatan [kemelekatan atau attachment] terhadap suatu hal dan pastinya akan tidak suka dengan lawan dari yang dia sukai.

Kata Maitri atau [mettā] itu sendiri sesungguhnya lebih tepat diartikan sifat yang ramah dan lapang atau sifat luhur, sedangkan dalam bahasa Inggris umum, kadang diterjemahkan loving-kindness [Terjemahannya sama dengan "cinta kasih"], hospitable [an attitude of open and welcome towards our guest or stranger] atau friendliness [an attitude of kindness and pleasant towards other], namun rasanya lebih tepat kalau diterjemahkan sebagai kindliness [kindliness = the quality of being kind, warmhearted and gentle].


Sādhu bukan berarti semoga demikian adanya「善哉不是“希望如此”的意思」
Jadi, arti kata sādhu bukanlah "semoga demikian adanya". tidak ada arti "Semoga" didalam kata sādhu. Itu cuma terjemahan bikinan orang Indonesia saja, atau bisa dikategorikan terjemahan yang salah, baik secara kosakata yang diambil dari Tipitaka maupun secara tatabahasa dari bahasa Sansekerta dan Pali. Mungkin yang mengatakan semoga demikian adanya boleh megkaji ulang kitab tipitaka. Sādhu artinya cuma "baik" [kebajikan] atau baik [persetujuan atau boleh diartikan: "iya"] dan kata seru "Baik!" [itu baik sekali! Itu sungguh baik!]. Jadi lain kali kalau bhante lagi ceramah, anda setuju dengan wejangan, boleh dijawab "sadhu", mirip mirip artinya dengan yang kita sebut sebut saat bimbingan sila dari bhante: āma, bhante.
āma = yes! [yah atau iya] 是的。kata āma bisa artinya mentah [makanan mentah atau belum dimasak].

Semoga bermanfaat dan tidak salah mengartikan kata sādhu lagi,
agar jangan lagi jadi bahan tertawaan bagi mereka yang memahami arti dan makna dari kata sādhu.






Sources「資源」:
Pali Dictionary GitHub
Pali Canon E-Dictionary Version 1.94 (PCED).
Sadhus: Holy Men of India, by Dolf Hartsuiker.
http://www.sanskrit-lexicon.uni-koeln.de/scans/MWScan/tamil/index.html
現代漢語辭典
Dhammapada [versi Pali - Tipitaka Mula]
Bhagavad Gita [Kitab Hindu]
Pleco Chinese Dictionary [Android]
http://samaggi-phala.or.id/tipitaka/dhammapada/
http://spokensanskrit.de/index.php?tinput=sAdhu&script=&direction=SE&link=yes

Wednesday, April 17, 2013

Incalculable Epoch ( Asankheyya kappa )

Incalculable Aeon or Epoch
(Asankheyya kappa)


According to Anguttara ii, 142, there are four periods called incalculable epochs(asankheyya kappa) within a great aeon or world cycle (maha kappa). The duration of each of these epochs cannot be enumerated even by taking hundreds of thousands (lakhs) of years as a unit, hence the name “incalculable aeon”. These four incalculable epochs are:

(i) Enveloping Epoch
period of destruction or dissolution of the world system.
In the Sun Discourse (Anguttara iv, 99), the Buddha described the destruction of the world by fire that even reaches the realm of Great Brahma.

It commences with the falling of the great rain and terminates with the extinction of flames if the world system is to be dissolved by fire; or the receding of floods if dissolved by water; or the cessation of storms if dissolved by air. An elaborate description of the dissolution of the world by fire, water or the air element is given in the chapter on the recollection of past life in the Visuddhi Magga or Path of Liberation.

(ii) Enveloped Epoch
period when the world system is completely destroyed or in a state of void.
This is the period beginning from the moment of dissolution of the world by fire, water or the air element till the falling of the great rain that heralds the evolution of a new world.

(iii) Developing Epoch
period of evolution.

This is the period beginning from the falling of the great rain that heralds the evolution of a new world to the appearance of the sun,moon, stars and planets.

(iv) Developed Epoch
period of continuance after having been reinstated.
This is the period beginning from the appearance of the sun, moon, stars and planets to the falling of the great rain that heralds the dissolution of the world.



Explanation of Lifespan in First, Second & Third Jhana Planes

Regarding the destruction of the world by the three great elements,
fire destroys the world up to the three planes of the First Jhana.
According to the commentators, the maximum lifespan in the First Jhana planes is 1 incalculable epoch because these planes exist only during one epoch, the developed epoch.

After being destroyed seven times consecutively by fire, the world will be destroyed by water on the eighth time when the destruction reaches the three planes of the Second Jhana. Hence the maximum lifespan in the Second Jhana planes is 8 world cycles.

After being destroyed in regular cycles seven times by fire and once by water, the world will be destroyed by wind on the 64th time when the destruction reaches the Third Jhana planes. Hence the maximum lifespan in the Third Jhana planes is 64 world cycles.



What is the cause of destruction and evolution of the world?
In the Manual of Cosmic Order, the Venerable Mahathera Ledi Sayadaw writes:
“Without a known beginning, and without end, the world or physical universe continues the same whether world-lords or supreme beings (issara) appear or not. Not made, not created by any such, not even a hundred, not even a thousand, not even a
hundred thousand world-lords would be able to remove it. By the law of heat (utu niyama), by the law of natural causation
(dhamma niyama), the order of the physical universe is maintained.”



Twenty Four Buddhas Preceding Lord Gotama Buddha
It should not be construed that there were no Buddha kappas before that of Dipankara Buddha or that no more Buddhas will arise after the present kappa. The numbers of Buddhas who have come and gone in the past, or who will come and go in the future, are as countless as the sands of the Ganges. The names of the twenty-four Buddhas who preceded our Lord Gotama beginning from Lord Dipankara and time intervals are listed below.

4 asankheyyas of kappas + 100,000 kappas ago:
Tanhankara,
Medhankara,
Saranankara,
Dipankara.

3 asankheyyas of kappas + 100,000 kappas ago:
Kondanna.

2 asankheyyas of kappas + 100,000 kappas ago:
Mangala,
Sumana,
Revata,
Sobhita.

1 asankheyya of kappas + 100,000 kappas ago:
Anomadassin,
Paduma,
arada.

100,000 kappas ago:
Padumuttara.

30,000 kappas ago:
Sumedha,
Sujata.

18,000 kappas ago:
Piyadassin,
Atthadassin,
Dhammadassin.

94 kappas ago:
Siddhattha

92 kappas ago:
Tissa,
Phussa.

91 kappas ago:
Vipassin.

31 kappas ago:
Sikhin,
Vessabhu.

Present kappa :
Kakusandha,
Konagamana,
Kassapa,
Gotama.




Dont forget to see other posting about
Kappa
Antara Kappa

Friday, February 8, 2013

Kappa

Kappa
1.a world cycle; an aeon;
2.thought.(adj.),suitable; proper; resembling.(in cpds.).


I. kappa,
(Sanskrit kalpa):'world-period',an inconceivably long space of time,an aeon.This again is subdivided into 4 sections:world-dissolution (saṃvaṭṭa-kappa) dissolving world),continuation of the chaos (saṃvaṭṭa-ṭṭhāyī),world-formation (vivaṭṭa -kappa),continuation of the formed world (vivaṭṭa-ṭṭhāyī).

"How long a world-dissolution will continue,how long the chaos,how long the formation,how long the continuation of the formed world,of these things; o monks,one hardly can say that it will be so many years,or so many centuries,or so many millennia,or so many hundred thousands of years" (A.IV,156)

A detailed description of the 4 world-periods is given in that stirring discourse on the all-embracing impermanence in A.VII,62.

The beautiful simile in S.XV,5 may be mentioned here:Suppose,o monks,there was a huge rock of one solid mass,one mile long,one mile wide,one mile high,without split or flaw.And at the end of every hundred years a man should come and rub against it once with a silken cloth.Then that huge rock would wear off and disappear quicker than a world-period.But of such world-periods,o monks,many have passed away,many hundreds,many thousands,many hundred thousands.And how is this possible? Inconceivable,o monks,is this saṃsāra (q.v.),not to be discovered is any first beginning of beings,who obstructed by ignorance and ensnared by craving,are hurrying and hastening through this round of rebirths."

Compare here Grimm's German fairy-tale of the little shepherdboy:'In Farther Pommerania there is the diamond-mountain,one hour high,one hour wide,one hour deep.There every hundred years a little bird comes and whets its little beak on it.And when the whole mountain is ground off,then the first second of eternity has passed."


II. Kappa,(adj.n.)
[Sk.kalpa,see kappeti for etym.& formation] anything made with a definite object in view,prepared,arranged; or that which is fit,suitable,proper.See also DA.I,103 & KhA 115 for var.meanings.--I Literal Meaning.-- 1.(adj.) fitting,suitable,proper (cp.°tā) (=kappiya) in kappâkappesu kusalo Th.1,251,°kovido Mhvs 15,16; Sn.911; as juice Miln.161.‹-› (-°) made as,like,resembling Vin.I,290 (ahata°); Sn.35 (khaggavisāṇa°); hetu° acting as cause to Sn.16; Miln.105; --a° incomparable Mhvs 14,65; -- 2.(nt.) a fitting,i.e.harness or trapping (cp.kappana) Vv 209 (VvA.104); -- a small black dot or smudge (kappabindu) imprinted on a new robe to make it lawful Vin.I,255; IV,227,286:also fig.a making-up (of a trick):lesa° DA.I,103; VvA.348.-- II.Applied Meaning.‹-› 1.(qualitative) ordinance,precept,rule; practice,manner Vin.II,294,301 (:kappati singiloṇa-kappo “fit is the rule concerning ...”); cp.Mhvs 4,9; one of the chalaṅga,the 6 disciplines of Vedic interpretation,VvA.265; -- 2.(temporal) a “fixed” time,time with ref.to individual and cosmic life.As āyu at DA.I,103 (cp.kappaṁ); as a cycle of time=saṁsāra at Sn.521,535,860 (na eti kappaṁ); as a measure of time:an age of the world Vin.III,109; Miln.108; Sdhp.256,257; PvA.21; It.17=Bdhd 87=S.II,185.There are 3 principal cycles or aeons:mahā°,asaṅkheyya°,antara°; each mahā° consists of 4 asaṅkheyya-kappas,viz.saṁvaṭṭa° saṁvaṭṭaṭṭhāyi° vivaṭṭa° vivaṭṭaṭṭhāyi° A.II,142; often abbreviated to saṁvaṭṭa-vivaṭṭa° D.I,14; It.15; freq.in formula ekampijātiṁ,etc.Vin.III,4=D.III,51,111= It.99.On pubbanta° & aparanta°,past & future kappas see D.I,12 sq.paṭhama-kappe at the beginning of the world,once upon a time (cp.atīte) J.I,207.When kappa stands by itself,a Mahā-kappa is understood:DA.I,162.A whole,complete kappa is designated by kevala° Sn.pp.18=46~125; Sn.517; also dīgha° S.II,181; Sdhp.257.For similes as to the enormous length of a kappa see S.II,181 & DA.I,164=PvA.254.-- Acc.kappaṁ adv.:for a long time D.II,103=115= Ud.62,quot.at DA.I,103; Vin.II,198; It.17; Miln.108; mayi āyukappaṁ J.I,119,cp.Miln.141.Cp.saṅkappa.

--âtīta one who has gone beyond time,an Arahant Sn.373.--âvasesaṁ (Acc.) for the rest of the kappa,in kappaṁ vā k-âvasesaṁ vā D.II,117=A.IV,309=Ud.62; Miln.140:--āyuka (one) whose life extends over a kappa Mhvs.V,87; --uṭṭhāna arising at or belonging to the (end of a) kappa:--aggi the fire which destroys the Universe J.II,397; III,185; IV,498; V,336; VI,554; Vism.304; --kāla the time of the end of the world J.V,244; --uṭṭhāna (by itself) the end of the world J.I,4=Vism.415; --kata on which a kappa,i.e.smudge,has been made,ref.to the cīvara of a bhikkhu (see above) Vin.I,255; IV,227,286; DA.I,103; --(ñ)jaha (one) who has left time behind,free from saṁsāra,an Arahant Sn.1101 (but expld at Nd2 s.v.,see also DA.I,103,as free from dve kappā:diṭṭhi° taṇha°).--jāla the consumption of the kappa by fire,the end of a kappa Dpvs.I,61.--ṭṭha staying there for a kappa,i.e.in purgatory in āpāyiko nerayiko + atekiccho,said of Devadatta Vin.II,202,206; A.III,402 ~IV.160; It.11~85.--ṭṭhāyin lasting a whole cycle,of a vimāna Th.1,1190.--ṭṭhika enduring for an aeon:kibbisa (of Devadatta) Vin.II,198=204; (cp.Vin.Texts III,254) sālarukkha J.V,416; see also ṭhitakappiṁ Pug.13.--ṭṭhitika id.DhA.I,50 (vera); Miln.108 (kammaṁ).(“sabbe pi magga-samaṅgino puggalā ṭhita-kappino.”) --ṭṭhiya-=prec.A.V,75; J.I,172,213; V,33; Miln.109,214.°rukkha the tree that lasts for a kappa,ref.to the cittapāṭalī,the pied trumpet-tree in the abode of the Asuras J.I,202; --nibbatta originated at the beginning of the k.(appl.to the flames of purgatory) J.V,272; --parivaṭṭa the evolution of a k; the end of the world Dpvs.I,59; --pādapa=°rukkha Mhbv 2; --rukkha a wishing tree,magical tree,fulfilling all wishes; sometimes fig.J.VI,117,594; Vism.206; PvA.75,176,121; VvA.32 (where combd with cintāmaṇi); DhA.IV,208; --latā a creeper like the kapparukkha VvA.12; --vināsaka (scil.aggi):the fire consuming the world at the end of a k.Vism.414 sq.; (mahāmegho) DhA.III,362; --samaṇa an ascetic Acc.to precepts,an earnest ascetic J.VI,60 (cp.samaṇa-kappa); --halāhala “the k-uproar,” the uproar near the end of a kalpa J.I,47.(Page 187)



Dont forget to see other posting about
Antara Kappa
Asankheyya Kappa